Mengapa Domain Sendiri Lebih Murah daripada Biaya Komisi Setahun
5 menit bacaDiperbarui 25 September 2026
Potongan marketplace terasa kecil karena diambil sedikit-sedikit di setiap pesanan. Namun, jika dijumlahkan selama setahun, angkanya sering mengejutkan. Di panduan ini kita menghitungnya bersama dengan contoh sederhana, lalu kamu bisa menghitung untuk usahamu sendiri dengan kalkulator HP.
Apa itu domain? Bayangkan alamat rumah
Domain adalah alamat tokomu di internet, misalnya kerupukbusiti.my.id. Jika marketplace seperti menyewa lapak di mal, domain seperti memiliki alamat rumah sendiri. Pembeli yang tahu alamatmu bisa langsung datang, tanpa melewati pintu mal dan tanpa ditarik biaya setiap kali ada transaksi.
Domain dibayar per tahun, bukan per penjualan. Baik laku 10 maupun 1.000 pesanan, biayanya tetap sama. Di situlah perbedaannya dengan komisi.
Berapa potongan marketplace sebenarnya?
Setiap marketplace punya aturan sendiri dan sering berubah. Sebagai contoh, per 31 Juli 2026 Shopee memotong biaya administrasi 2,5% sampai 10% dari harga jual untuk penjual biasa (non-Star), tergantung kategori produk, ditambah biaya proses Rp1.250 per pesanan. Jika ikut program tambahan seperti promo gratis ongkir, potongannya bisa bertambah lagi.
| Rincian | Jumlah |
|---|---|
| Harga jual | Rp100.000 |
| Biaya administrasi 10% | − Rp10.000 |
| Biaya proses pesanan | − Rp1.250 |
| Yang kamu terima | Rp88.750 |
Catatan: Angka dari ringkasan biaya resmi Shopee untuk penjual non-Star per 31 Juli 2026, memakai tarif tertinggi 10%, belum termasuk biaya program tambahan. Cek tarif kategorimu di pusat edukasi penjual, karena tarifnya bisa berubah.
Jika dijumlahkan setahun, berapa totalnya?
Misalkan kamu menjual 100 pesanan sebulan dengan harga rata-rata Rp100.000. Potongannya Rp11.250 per pesanan.
| Jumlah | |
|---|---|
| Potongan per pesanan | Rp11.250 |
| × 100 pesanan sebulan | Rp1.125.000 per bulan |
| × 12 bulan | Rp13.500.000 per tahun |
Tiga belas setengah juta rupiah setahun. Uang itu bisa menjadi modal bahan baku, gerobak baru, atau biaya sekolah anak.
Penjualanmu lebih kecil? Dengan 30 pesanan sebulan pun, potongannya tetap Rp11.250 × 30 × 12 = Rp4.050.000 setahun. Angka ini hampir selalu jauh lebih besar daripada biaya alamat toko sendiri.
Bandingkan dengan biaya domain
Domain Indonesia seperti .my.id atau .biz.id dijual per tahun, dengan harga dasar yang ditetapkan PANDI (pengelola domain Indonesia). Harga di tiap penjual domain bisa berbeda dan sering ada promo tahun pertama, jadi selalu periksa harga perpanjangannya, bukan hanya harga promonya.
| Marketplace (contoh di atas) | Domain sendiri | |
|---|---|---|
| Cara pembayaran | Dipotong setiap pesanan | Sekali setahun |
| Makin laku, makin mahal? | Ya | Tidak |
| Data pembeli | Milik aplikasi | Milikmu |
| Biaya setahun | Rp13.500.000 | Puluhan sampai ratusan ribu rupiah |
Catatan: Biaya domain tergantung jenis alamat dan penjualnya. Periksa harga terbaru sebelum membeli.
Jujur saja: domain bukan satu-satunya biaya
Memiliki toko sendiri juga membutuhkan tempat penyimpanan halaman (hosting) dan waktu untuk mengelolanya. Banyak pilihan hosting gratis atau murah untuk toko sederhana. Meski begitu, biaya tetap setahun hampir selalu jauh di bawah potongan komisi begitu penjualanmu rutin.
Hitung untuk usahamu sendiri
Centang tiap langkah yang sudah kamu kerjakan
Cara memilih nama domain yang baik
Centang tiap langkah yang sudah kamu kerjakan
Pertanyaan yang sering muncul
Apakah pembeli akan percaya pada toko di luar marketplace?
Kepercayaan dibangun dari hal sederhana: foto asli, alamat dan nomor yang jelas, testimoni pembeli sungguhan, dan rekening atas nama usaha atau pemilik yang sama dengan nama toko. Pembeli yang sudah pernah puas biasanya tidak ragu memesan lagi lewat jalur langsung.
Harus .com atau boleh .my.id?
Keduanya sama-sama bisa dipakai. Domain berakhiran Indonesia seperti .my.id atau .biz.id menunjukkan usahamu dari Indonesia dan umumnya lebih terjangkau. Yang terpenting, alamatnya mudah diingat pembelimu.
Saya belum siap membuat toko online sendiri. Mulai dari mana?
Mulai dari yang sudah kamu punya: WhatsApp. Rapikan katalog WhatsApp Business, simpan nomor setiap pembeli, dan selipkan kartu nomor WhatsApp di setiap paket. Setelah pelanggan tetap mulai memesan langsung, barulah pikirkan alamat toko sendiri. Langkah kecil yang rutin lebih kuat daripada rencana besar yang tidak pernah dimulai.
Tidak perlu meninggalkan marketplace sekaligus
Kami tidak menyarankanmu menutup toko di marketplace besok pagi. Marketplace tetap berguna untuk ditemukan pembeli baru. Caranya bertahap: setiap pembeli yang sudah pernah berbelanja, ajak memesan berikutnya lewat WhatsApp atau tokomu sendiri. Selipkan kartu kecil di paket berisi alamat tokomu dan nomor WhatsApp.
Jika separuh saja pelanggan tetap beralih ke jalurmu sendiri, di contoh tadi kamu menyelamatkan sekitar Rp6.750.000 setahun. Perlahan, usahamu berdiri di atas kaki sendiri. Itulah maksud Do It Yourself.